Format tanggal yang sama, apanya yang salah?
Sudah dua hari ini bro pusing mikirin nich template, "Kenapa format tanggal di postingan ku ini selalu menampilkan tanggal yang sama...??? (*Red : dulu 17 April 2009*)" dan itu baru aku ketahui 2 hari yang lalu, browsing kesana kemari nyari panduan gak ketemu², puyeng... menghabiskan uang sakuku saja, tapi Alhamdulillah hari ini sudah aku temukan jawabannya, seneng banget rasanya ketika semua masalah itu dapat terjawab, hahahahaha :D



Jadi letak permasalahannya ada pada kode HTML template ku, ini nich kode yang bikin puyeng dan gak bisa tidur beberapa hari kemarin :



Itu Kode yang membuat Tanggal di Blog ku itu menampilkan tanggal yang sama tiap kali posting.



Kemudian ketika akhirnya menemukan jawabannya di Google, kode yang benar adalah sebagai berikut :


Jadi kode yang FRIDAY, APRIL 17, 2009 di ganti dengan diletakkan pada posisi yang sama seperti sebelumnya.

Seneng banget rasanya bisa nyelesain 1 masalah :D
Berkelana lagi Nyok
Aku ingin berkelana lagi seperti dulu waktu jaman² kuliah, menyusuri setiap sudut kota, entah dengan berjalan kaki atau berkendara bersama kawan, yang aku inginkan hanyalah menghabiskan sisa² malam, dengan cahaya lampu jingga di setiap jalan yang aku lalui, menikmati bangunan² kuno yang terpampang,
entah kenapa suasana malam bagiku justru menyejukkan, tak ada panas menyengat yang membuatku dahaga, tak ada kebisingan kendaraan yang lalu lalang, malam yang sepi begitu menghipnotisku.

Dulu ketika pikiranku masih sering melayang, seakan ada sesuatu yang bergelayut manja di dalamnya, tapi tak pernah tahu apa itu, jalan satu-satunya yang aku lakukan adalah dengan berjalan menyusuri jalan-jalan yang aku lalui, waktu itu aku tak pernah tahu akan kemana, hanya langkah kakiku yang akan menghantarkannya sampai kemudian lelah menyapaku dan aku baru akan berhenti.

Waktu itu aku pernah bolak-balik ke Tugu Muda Semarang, tak jelas apa yang aku cari, kadang aku hanya duduk menikmati kendaraan yang lalu lalang di depanku, kemudian mulai berjalan lagi, ketika kedua kakiku merasa lelah aku berhenti lagi, tak jarang aku tidur di salah satu emperan toko yang kulihat tidak terlalu ramai dan mencolok, kemudian mulai pulang ke tempat kost ketika sinar mentari pagi mulai muncul di ufuk timur itu, kadang akupun heran dengan diriku sendiri, entah apa yang aku cari waktu itu.

Dan saat ini aku merasakan ingin berkelana lagi seperti dulu, tapi kali ini aku mempunyai tujuan, walau masih belum jelas untuk apa aku ke sana, AKU INGIN MENIKMATI JOGJA, bukan untuk seseorang, bukan untuk siapa², hanya untuk diriku, dari dulu jaman kuliah aku sudah ingin kesana, pernah suatu kali kawan kost mengajakku untuk pergi ke sana,
obrolan yang terjadi di warung nasi kucing Bundaran Air Mancur Semarang.


Bertiga pada saat *Menikmati mie rebus, dini hari*
    • Kawan 1 : "Tahun baru kita kemana yuk kang..???"
    • Aku : "Kemana....???"
    • Kawan 1 : "Bagaimana kalau kita ke Jogja...???"
    • kawan 2 : *Menikmati mie rebus* "Dalam rangka apa ?"
    • kawan 1 : "Ya main-main aja, sambil tahun barunan"
    • kawan 1 : "Bagaimana kalau lusa kita berangkat,,,???"
    • Aku : "Emmm...lusa ya...?" *Mikir-Mikir, soalnya lusa kan juga Idul Adha"
    • kawan 1 : "Gak pulang khan...???"
    • Kawan 2 : "Setuju, aku ikut, gimana dengan dirimu berani gak?"
    • Aku : "Yach jangan besok dong, besok khan Idul Adha,,,"
    • kawan 2 : "Ya sudah kalau gak mau, aku sama dia tetep berangkat, ya gak kang...???"
    • Aku : "Ehmmmm, wah bingung nich, tahun barunya ngepasin pas lebaran e...???"
    • Kawan 1 : "Yupz, besok kita berangkat jam 8 pagi, kita berangkat naik bus, entar nginep di rumah temenku piye, dan malemnya kita keliling jogja, ikut gak?"
    • Aku : "Wah kalau besok aku gak isa kang"
    • Kawan 1 : "Ya sudah aku sama dia aja yang berangkat, okey coy"
    • Kawan 2 : "Sip, jemput aku yo kang"
    • Aku : "Ya sudah, kalian aja yang berangkat, aku tetap di Semarang"
    Dan kemudian mereka berdua tetep berangkat ke Jogja, dan aku menikmati tahun baru yang betepatan dengan Idul Adha waktu itu dengan tetap tinggal di Semarang,

    Saat ini keinginan itu muncul kembali .....




    FB ku sayang....
    Facebook atau FB mang sekarang lagi jamannya dari anak-anak kecil sampai orang² tua sekarang pada mainan FB semua. Memang menarik sih situs jejaring sosial ini, segala yang di catat teman² kita di statusnya atau dalam catatan pribadinya yang mirip dengan blog bisa kita lihat, sehingga kita pun bisa bebas berkomen ria di situ, mungkin ini pula yang membuat aku sedikit males untuk menyentuh blog ku, hanya sesekali aku mengunjunginya, kalau ada ide aku baru mempostingnya, kalau ide lagi kering, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan berfacebook ria, setelah mengenalnya (FB *red*) akupun mulai jarang blogwalking dengan teman² blogku, dan hasilnya kayaknya kita dah saling melupakan. hahahaha........

    Tapi ketika sudah sekian lama bermain dengan FB ada hal-hal yang membuatku kurang sreg,aku melihat ketika banyak dari kawan² saling berkomen atau memperbarui statusnya, ada beberapa dari mereka yang kurang berkenan atas koment atau status yang di tulis seseorang.


    Misalnya ketika seorang kawan mengupdate status yang tiap hari dengan bahasa yang kadang seperti khayalan atau guyonan ada yang menanggapinya dengan hal yang berbeda, "ah si A itu statusnya gak penting banget, tidak bermutu".
    Ada lagi ketika ada yang menulis bahasa puisi, mereka menganggap "Ah sok puitis,mbok yang sewajarnya saja lah".
    Dan kadang dari sebuah koment di FB terjadi sebuah pertengkaran, gara² ada kata² yang kurang berkenan di hati sang pemiliknya. "Maksudmu apa sih nulis² kayak gitu, aku gak butuh coment dari kamu, mbok ngaca diri sendiri, kamu tuch seperti apa, aku seperti ini bukan untuk kamu, tapi untuk diriku dan keluargaku, aku gak butuh coment dari kamu !!!" itulah kata² yang keluar dari seorang kawan yang marah ketika FB nya dapet koment dari kawannya. Padahal aku juga tahu bahwa yang nulis koment tadi itu orangnya memang cablak, yang kadang suka asal cuap, tapi semuanya itu hanya bercanda. Tapi rupanya sang pemilik tidak terima atas koment yang di tulis.

    Hal-hal seperti tadi lah yang aku takutkan, kita terlalu menanggapi segala sesuatunya dengan serius, padahal menurutku FB dan segala status yang ditulis oleh sang pemilik FB tersebut bisa di baca oleh siapa saja, dan tentu saja mereka juga berhak untuk memberikan penilaian atas apa yang dilihatnya, cuman memang tidak semua orang bisa menerima atas penilaian dari orang lain, mungkin penilaian mereka terlalu menusuk hati dan perasaannya, sehingga kadang membuatnya marah.

    Yupz, mungkin ini hanya sekedar curhatan dariku, yang beberapa hari ini terlintas dalam pikiranku, saat ini aku terlalu takut untuk mengupdate status FB ku setiap hari, padahal kadang aku ingin menuliskan apa yang aku rasakan di sana, entar di kiranya sok, entar dikiranya inilah, itulah, padahal itulah yang sedang aku rasakan, itulah yang ada dalam pikiranku saat itu, bukan untuk bermaksud sok²an atau apa, tapi hanya sekedar ingin menulis, yupz menulis... itu saja.

    ♥ ♥ ♥ ♥ I Lope U Pull ♥ ♥ ♥ ♥
    Sandal ilang salah siapa hayooo...????
    Menjelang lebaran, orang memang beramai-ramai untuk membeli segalanya yang baru, baju baru, sandal baru, dan otomatis membutuhkan uang lebih untuk membeli semuanya itu, nah itu akan menjadi satu masalah jika orang itu tidak mempunyai uang, Mungkin yang tidak takut akan dosa, akan mengambil jalan pintas untuk menggapainya, apa misalnya...???
    Mencuri, Nyolong, Ngambil milik orang lain tanpa ijin, wakakaka... intinya sama saja.

    Well, seperti yang aku alami kemarin, Ups...maap bukan aku nyolong atau mencuri nih, tapi justru aku yang menjadi korbannya, jadi 2 hari yang lalu ketika yang lain pada tarawehan, aku nekat gak ikut taraweh, malah justru Online di salah satu warnet di kotaku, kebiasaan online seperti membuatku kecanduan, bahkan bisa sampai ber jam-jam duduk di sana, hari itu hampir 3 jam nongkrong di warnet itu, keasyikan online ndak tahunya begitu pas pulang aku nyari sandalku kok gak ada, aku uber-uber di sekitar situ juga gak keliatan batang idungnya, busyet dah, perasaanku mulai gak enak nich, langsung saja aku tanya sama operatornya yang jaga warnet, tentu saja dia gak tahu, ya iyalah, masak harus mengawasi semua sandal orang yang main disitu, week, alhasil aku pulang dengan nyeker tanpa sandal, tanpa alas kaki...


    Yang aku heran, ini masih dalam bulan Ramadhan lho, masih puasa kok ya berani-beraninya mencuri milik orang lain, Gyahahaha...gaya banget, padahal taraweh aja juga gak ikutan kok, aku sih mengkhlaskan tuch sandal, yach mungkin emang rejekinya orang yang ngambil, atau justru karena diriku kurang beramal, atau mungkin yang lebih pas lagi bahwa ini adalah suatu peringatan dari yang di atas, kalau waktunya taraweh itu mbok ya ikutan taraweh, jangan malah online di warnet gitu, aku ambil sisi postifnya saja sih.

    Dan tahu enggak, setelah 1 hari peristiwa naas itu menimpaku, kejadian serupa juga menimpa kawanku, walaupun gak main di tempat yang sama tapi nasibnya sama denganku, sama-sama kehilangan sandal di warnet, whuiiihhh, tapi dia masih berutung, sandal yang dituker masih lumayan bagus, sedangkan diriku, malah dapet sandal jepit yang sudah uzur, wew...

    Buat yang ngambil sandalku, mungkin itu memang rejeki untuk dirimu, walah... emang dia bakal baca nich postingan, tau dech, nikmati saja sandalnya bro, moga bermanfaat, :P

    " D "
    Aku tak akan menyebut nama, tapi D selalu menjadi awal sebuah nama,
    D kata awal yang pertama kali terucap ketika aku pertama kali melihat dunia dan keindahannya, D lah yang pertama kali mengenalkanku tentang dalamnya sebuah perasaan, D juga yang pertama kali mengenalkanku tentang kecewa dan segala pahitnya rasa,dan ketika D kemudian mulai menghilang, aku pun tak pernah lagi melihatnya, bayangan dan kenangan yang ada padanya pun seakan ikut sirna dari kehidupanku.

    Aku pun melanjutkan kembali kehidupanku, tanpa D,lingkungan baru membentukku, dan aku mulai menyukainya,berjalan dengan mereka, mencoba tetap ada, menatap langkah bersama mereka, sampai suatu saat aku dan mereka harus keluar dari habitat yang telah kami jalani selama ini,saat itulah aku bertemu dengan D yang lain, D yang berbeda, malam itu perjumpaan awal aku dengannya, dia dengan kawan-kawanya dan aku dengan kawan-kawanku sendiri, aku menatap langit malam itu, ada bulan dan bayangan sinarnya yang terpancar begitu cerah, bulan menatapku seakan tahu apa yang sedang bergejolak dalam pikiran dan anganku, seakan setiap langkah dan gerak-gerikku tak pernah lepas dari tatapan sang bulan, aku pun merasa tak nyaman,ku urungkan niatku tuk menjamah D, hanya dari balik bayangannya aku bisa menatapnya.

    Malam itu aku tak berani menyapa D,dan kemudian waktu terus berputar, setiap kali aku berkunjung dan bertegur sapa di perjumpaan rutin, D selalu muncul, aku mulai menyapanya, hanya menyapa, tapi apa yang ada dalam hati dan pikiranku tentang D dan perjumpaan pertama kali di malam itu tak berani aku ungkapkan, aku terlalu takut, kenagan pada D yang dulu yang memaksaku memendam segala rasa yang ada saat itu, sampai suatu saat ketika aku harus meninggalkan kota itu, aku menganggap D hanya sebagai kawan, aku memunafikkan rasa yang ada, alhasil D kembali menghilang...

    Waktu terus berjalan, aku berjalan dengan sepi yang menyapa rasa, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan ketika tahun berganti tahun pun aku masih berjalan dengan kesendirianku, hanya kawan-kawan yang masih setia menemani, bersama kita tertawa dan berbagi, membuatku melupakan semua, bahwa sesunguhnya aku membutuhkan rasa untuk menhiburku, kebersamaan waktu itu lah yang menggantikan semuanya.

    Sampai suatu saat, aku benar-benar merasakannya kembali ketika aku harus berpisah dengan mereka, kawan-kawan yang setia menemaniku waktu itu, tapi itu semuanya tak ada gunanya, aku masih saja menjalani kehidupanku sendiri, aku tak berani mencari sesuatu yang baru lagi, rasa yang menjalar aku tepiskan.

    Di saat aku benar-benar menikmati kesemuanya itu, aku mendapati D yang lain, aku tak percaya kenapa semua kisah yang ada selalu di awali dengan huruf D, D datang tanpa aku duga, tapi sekali lagi aku masih merasakan ketakutan yang sama, kejadian yang dulu seakan menghambat langkahku untuk mengenal setiap D yang aku kenal, aku tak tahu apakah aku berani menghapus luka lama itu, untuk kemudian mencoba mengenal D yang kali ini.

    Aku benar-benar tak percaya, mengapa kisahku selalu diawali dengan huruf D
    D kata awal yang memulai semuanya, mungkin D pula yang akan mengakhiri semua perjalanan ini, berharap, mimpi semua bisa menjadi senjata untuk melangkah...

    Hanya di balik senja aku ungkapkan semua rasa yang ada pada diriku,
    cahaya senja dan warna jingganya seakan membuatku untuk tak pernah jenuh bercerita.

    Di balik senja aku berani menatapnya
    Di balik senja aku ungkapkan sejuta rasa
    Di balik senja seutas harapan dan semangat Menyapaku tuk lalui hari-hari itu

    Satu Sisi, 26/08/09
    Sepi aku sendiri terjebak direntan hari
    Takut menghalangi batasi gerak diri
    Akal sehatku mati agungkan yang tak pasti
    Mautpun membayangi tak sanggup kusembunyi

    Satu sisi telah terhapus sisakan perih
    Satu sisi telah terlahir memecah sunyi

    Asa yang menari menggeliat dibenakku
    Samar nurpun melambai
    Memanggilku 'tuk kembali

    Satu sisi telah terhapus sisakan perih
    Satu sisi telah terlahir memecah sunyi

    Satu sisi melimpah berkah memeluk lelahku
    Satu sisi takkan kulepas temani hariku

    Satu sisi telah terhapus
    Sisakan perih yang dalam
    Satu sisi telah terlahir
    Pecahkan sunyi yang panjang

    Lagi pingin bernostalgila nich entah karena bosan denger lagu-lagu yag ada atau entah karena gimana, yang jelas begitu denger lagu ini, lagu dari Dewa di Album nya Pandawa Lima, yang cover kasetnya warna biru laut, seperti di bawah ini :



    Album Pandawa ini dirilis pada tahun 1997. Album ini merupakan album terakhir Dewa 19 bersama Ari Lasso sebagai vokalis. Ari Lasso dan Erwin Prasetyo mengalami ketergantungan narkoba, sehingga kedua personel Dewa 19 ini terpaksa dikeluarkan. Hits yang lahir dari album ini yaitu "Kirana", "Kamulah Satu-Satunya", dan lainnya.

    Lyriknya maut bro, atau memang karena suasana hati lagi mellow ya, hahahahaha... GAk ngerti dah....
    Stuck oi....
    Tadinya aku pengen nulis sesuatu, tapi gak tahu kayaknya lagi stuck banget dech, Kering banget ma ide, kata temen-temen sih sebelum memulai untuk menulis belajarlah dulu membaca, perbanyak membaca, iya...mungkin ada benarnya juga, sekarang yang aku alami adalah aku malah bingung sendiri ketika berhadapan dengan keyboard dan monitor, bolak-balik sama sekali gak tahu pengen nulis apaan, bener-bener mati nich otak, hahahaha, lebay ya, tapi memang begitulah kondisinya kok,

    Stuck...
    Okay dech, harus cabut nich kayaknya, barusan udah di calling nyokap, nyokap minta di ambilin pakaian di tempat langganannya, dan sekarang malah aku tinggal nge net, dan barusan nyokap sms nanyain apakah pakaiannya udah di ambil apa belom? besok mau di pakai kayaknya, mangkanya aku disuruh buru-buru pulang ke rumah, nganterin tuch pakaian,





    Satu Kebahagiaan itu dari Tuhan
    Kita terlalu takut pada bayangan yang ada di pikiran kita, padahal setelah kita menjalaninya semuanya tidak seperti apa yang kita bayangkan,
    Entahlah aku harus ngomong apa tentang ini, jika mengingatnya aku merasakan begitu bodohnya diriku, padahal cuman seperti itu doang,

    Setelah semuanya berakhir yang kudapati adalah rasa plong, bahagia, puas, dan seakan seperti seorang budak yang baru saja dimerdekakan oleh tuannya.
    Alhamdulillah, Puji syukur pada Tuhan yang telah membiarkan aku merasakan perasaan seperti yang sekarang ini baru saja aku rasakan.


    Kalian tahu betapa menderitanya aku tadi sebelum aku melaluinya, begitu banyak prasangka-prasangka buruk yang ada di pikiranku, membuatku ingin lari dari kenyataan, dari apa yang akan aku lalui, Namun Tuhan mengabulkan doa'ku, memberikan aku semangat dan keberanian untuk melaluinya, dan Alhamdulillah aku berhasil melaluinya, ini adalah karunia dari Tuhan.

    Terima Kasih Ya Allah...